Berdasarkan pada kalender yang nemplok di tembok kos-kosan saya, maka hari ini adalah hari Rebo Wage, 9 Dulkangidah 1942 atau yang dalam penanggalan masehinya berangka 28 Oktober 2009, dan menurut agenda nasional maka hari ini merupakan hari peringatan suatu peristiwa bersejarah, yaitu Sumpah Pemuda.
Konon kabarnya, Sumpah Pemuda ini merupakan suatu peristiwa dahsyat bin sangar,, pokoknya jan ngedab-edabi, apalagi untuk situasi dan kondisi jaman kala semana,,, merupakan suatu tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Putusan Kongres PEmuda 1928:
Pertama : – Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
Kedua :
- Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
Ketiga :
- Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Djakarta, 28 Oktober 1928
Sayang sekali hari ini saya ndak banyak nonton tipi (kecuali tadi pagi nonton berita olahraga, hehe). Jadi ndak tau apakah media massa yang paling berkuasa sekarang-sekarang ini itu cukup mengangkat persoalan ini ke masyarakat. Namun dari apa yang saya rasakan di lingkungan saya sendiri, rasanya hari ini sangat sedikityang ngeh sama yang namanya Sumpah Pemuda, -dan itu sangat menugkin termasuk saya sendiri-.
Padahal sebenarnya masih banyak hal yang perlu menjadi perhatian. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa sebenarnya pada hari itu tidak ada Sumpah Pemuda. Yang ada hanyalah Putusan Kongres Pemuda II. Kongres Pemuda I 1926 juga sebenarnya menghasilkan keputusan. Kemudian adalagi isu mengenai pentingnya Manifesto Politik 1925 oleh Perhimpunan Indonesia. Pokoknya -weh, lha ini jurus saktinya keluar,, pokoke! hehe- masih banyak hal yang perlu untuk dibahas seputar bab ini.
Sayangnya, kok ya sampe sekarang babagan ini kok seperti terlupakan. Katanya tonggak sejarah pergerakan,, lha berarti juga sama pentingnya dengan sejarah proklamasi toh? Kok ya nggak ada yang peduli gitu lho. Pemerintah adem ayem saja... Masyarakat -seperti biasanya- juga nampak tidak peduli. Lha piye iki..... isih niat berbangsa dan bernegara Indonesia pora tho jan-jane ki..??
Mbok ya didiskusikan secara nasional, biar ada pencerahan gitu lho. Jangan sampe blunder lagi,, misalnya, seperti soal Kebangkitan Nasional yang dinyatakan berdasar pendirian Boedi Oetomo pada 1908,, padahal sebelumnya telah berdiri Syarikat Islam (Syarikat Dagang Islam) pada 1905, yang secara jelas dan meyakinkan lebih berhak disebut sebagai organisasi nasional yang pertama-tama. Itu baru satu soal.
Jas Merah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!!
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya (pendahulunya).
Itulah yang biasanya diucapkan oleh orang-orang penting pada upacara seremonial, terdengar di tipi-tipi dan koran-koran
Uaahhh.... kembang lambe thoook!!! dhobol ngarit kabeeehhhh!!!
Masyarakat Indonesia sekarang ini rasanya tidak hanya lupa sejarah. Namun lebih tepatnya, tidak tertarik dengan sejarah. Namun ketika ada persoalan terkait dengan sejarah, dengan seenak wudelnya sendiri mereka akan ngemeng ini dan itu,,,,, ya kayak saya ini.
====
*) kembang lambe thok = manis di mulut saja
*) dobhol ngarit = omong kosong belaka, seperti obrolan anak2 gembala kalo lagi disuruh bapaknya cari rumput.